BMKG: Puting Beliung Biasa Terjadi Saat Pancaroba


Penulis: Indriyani Astuti - 06 December 2018, 20:32 WIB
MI/Dede Susianti
MI/Dede Susianti

PUTING beliung melanda Kota Bogor, Jawa Barat, Kamis (6/12) sore. Peristiwa ini mengakibatkan sejumlah pohon patah dan bangunan rusak.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kejadian itu merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi. Puting beliung merupakan hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang berdurasi singkat. Lebih banyak terjadi pada masa transisi/pancaroba musim baik dari musim kemarau ke musim hujan atau sebaliknya dan musim hujan saat kondisi cuaca cerah dan terik.

"Indikasi terjadinya hujan lebat disertai kilat/petir dan angin kencang berdurasi singkat," ujar Kepala Humas BMKG Harry Djatmiko melalui keterangan resmi yang diterima Media Indonesia.

Baca juga: Ratusan Rumah di Gresik Rusak Diterjang Puting Beliung

Lebih lanjut kata dia, sehari sebelum puting beliung, udara pada malam hari hingga pagi hari biasanya terasa panas dan gerah. Hal itu diakibatkan adanya radiasi matahari yang cukup kuat ditunjukan oleh nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4.5°C) disertai dengan kelembaban yang cukup tinggi ditunjukkan oleh nilai kelembaban udara di lapisan 700 mb (> 60%).

Mulai pukul 10.00 pagi, terlihat tumbuh awan Cumulus (awan putih berlapis – lapis), diantara awan tersebut ada satu jenis awan yang mempunyai batas tepinya sangat jelas berwarna abu-abu menjulang tinggi seperti bunga kol.

Tahap berikutnya, awan tersebut akan cepat berubah warna menjadi abu – abu / hitam yang dikenal dengan awan Kumulonimbus. Pepohonan, dahan atau ranting di sekitar mulai bergoyang cepat dan terasa  sentuhan udara dingin disekitar tempat berdiri.

"Puting beliung biasanya terjadi saat hujan yang pertama kali turun, hujan deras tiba-tiba, apabila hujannya gerimis maka kejadian angin kencang jauh dari tempat kita," kata Harry.

Sifat-sifat puting beliung,  kencang berdurasi singkat, sangat lokal, luasannya berkisar 5-10 km, waktunya singkat sekitar kurang dari 10 menit, lebih sering terjadi pada peralihan musim (pancaroba), lebih sering terjadi pada siang atau sore hari, dan terkadang menjelang malam hari, bergerak secara garis lurus  dan tidak bisa diprediksi secara spesifik.

"Hanya bisa diprediksi 0.5-1 jam sebelum kejadian jika melihat atau merasakan tanda-tandanya dengan tingkat keakuratan kurang dari 50 %," ujarnya.

Lebih lanjut kata dia, puting beliung berasal dari awan Cumulonimbus,  tetapi tidak semua awan tersebut menimbulkan puting beliung dan kemungkinannya kecil untuk terjadi kembali di tempat yang sama. (OL-6)

BERITA TERKAIT